R1554 SKH

Minggu, 15 Juni 2014

PERISTIWA KOGNITIF: PERSEPSI


PERISTIWA KOGNITIF: PERSEPSI


1.      PENGERTIAN PERSEPSI

     Persepsi adalah kemampuan mengunakan sinyal sensoris seperti visual, pendengaran, kinestetik, sentuhan dan lain-lain untuk memacu aktivitas motorik. Kemampuan ini bervariasi dari stimulasi sensoris, melalui seleksi, kemudian menerjemahkannya kemampuan tersebut akan tampak ketika seseorang bereaksi terhadap suatu informasi atau menyelesaikan suatu masalah, seperti pada saat memilih (chooses) menggambarkan atau menjabarkan (describes), membedakan (differentiates), mengidentifikasi (identifies), mengisolasi (isolates), menghubungkan (relates), menyeleksi (select) dan lain-lain.
     Chaplin (2002) mengartikan persepsi sebagai “proses mengetahui objek dan kejadian objek dengan bantuan indera.”
     Morgan (1979)  mengartikan persepsi sebagai “The process of discriminating among stimuli and of  interpreting their meaning.”
     Menurut Atkinson dan Hilgard (1991), persepsi adalah “proses di mana kita mengorganisasi dan menafsirkan pola stimulus dalam lingkungan.”
     Robin mendefinisikan persepsi sebagai proses di mana seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan sensasi yang dirasakan dengan tujuan untuk memberi makna terhadap lingkungannya.
     Notoatmodjo mendefinisikan persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi cepat dan kadang tidak kita sadari, di mana kita dapat mengenali stimulus yang kita terima.      

     Walgito (1997) menjelaskan pengertian persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera. Dengan kata lain persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Persepsi merupakan keadaan integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri individu, pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman individu, akan ikut aktif berpengaruh dalam proses persepsi.
     Gibson, dkk (1989) yang menyatakan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsir dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek), tanda-tanda dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Dengan kata lain, persepsi mencakup penerimaan stimulus, pengorganisasian, dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang diorganisasikan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Gibson, dkk (1989) juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu akan memberikan arti kepada stimulus dengan cara yang berbeda meskipun obyeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebioh penting dari pada situasi itu sendiri.
      Jadi, persepsi pada dasarnya menyangkut hubungan manusia dengan lingkungannya, bagaimana ia mengerti dan menginterprestasikan stimulus yang ada di lingkungannya. Setelah individu menginderakan objek di lingkungannya, kemudian ia memproses hasil penginderaannya itu, sehingga timbullah makna tentang objek itu pada dirinya yang dinamakan persepsi.

2.      FAKTOR MUNCULNYA PERSEPSI


Ada beberapa faktor yang menyebabkan stimulus dapat masuk dalam rentang perhatian seseorang. Faktor penyebab ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor melekat pada objeknya, sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan stimulus tersebut.





Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut :
a. Faktor eksternal
    1. Kontras : Cara termudah untuk menarik perhatian adalah dengan membuat kontras      
 baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan
          - Kontras warna; jika seseorang naik gunung maka dianjurkan menggunakan jaket  
            warna jingga. Hal ini untuk memudahkan pencarian jika tersesat di gunung. 
Warna jingga yang kontras dengan warna hijau disekelilingnya akan lebih cepat       
 menarik perhatian seseorang.
          - Kontras ukuran; cara ini banyak dilakukan oleh perusahaan iklan, di mana mereka     
 akan membuat papan iklan yang besar sekali (balihoo).
          - Kontras bentuk; diantara kumpulan orang yang kurus-kurus maka kita akan cepat
 menjadi perhatian orang jika kita berbadan gemuk
          - Kontras gerakan; gerakan akan menarik perhatian seseorang, jika benda-benda lainnya 
 diam.
2.      Perubahan intensitas: suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya yang 
 berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang.
3.   Pengulangan (repetition): iklan yang diulang-ulang akan lebih menarik perhatian,   
walaupun sering kali seseorang merasa jengkel dibuatnya. Dengan pengulangan,    
walaupun pada mulanya stimulus tersebut tidak masuk dalam rentang perhatian  
 seseorang, maka akhirnya akan mendapat perhatian.
4. Sesuatu yang baru (novelty): suatu stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian  
daripada sesuatu yang telah kita ketahui.
5. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak: suatu stimulus yang menjadi perhatian   
    orang banyak akan menarik perhatian seseorang. Misalnya; jika ada segerombolan orang
    yang berkerumun di rel kereta api, maka seseorang akan tertarik untuk melihat apa yang
    dilihat oleh gerombolan orang tersebut.



b. Faktor internal
Faktor internal yang ada pada seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang menginterpratasikan stimulus yang dilihatnya. Itu sebabnya stimulus yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda.
1. Pengalaman/pengetahuan: pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang diperoleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan terjadinya perbedaan interpretasi.
2. Harapan (expectation): harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap stimulus. Misalnya; jika seseorang ke rumah sakit mengantarkan orang sakit dalam keadaan gawat, ketika ada orang dengan jas putih datang, maka kita akan langsung memanggilnya dokter. Namun jika yang datang kita tahu bukan dokter, maka orang tersebut akan kecewa dan berteriak “Mana dokternya?”
3. Kebutuhan: kebutuhan akan menyebabkan stimulus tersebut dapat masuk dalam rentang perhatian kita dan kebutuhan ini akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan stimulus secara berbeda. Misalnya; seseorang mendapat uang sebesar 15 juta rupiah, seseorang akan merasa banyakr sekali bila yang dibutuhkan untuk membeli telivisi, namun jika yang dibutuhkan untuk membeli rumah, uang sebesar itu akan dipersepsikan sedikit.
4. Motivasi: motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Jika seseorang ingin lulus dengan cum laude maka nilai B akan diinterpretasikan sebagai nilai yang buruk, namun jika seseorang ingin cepat lulus maka nilai B adalah nilai yang sudah baik.
5. Emosi: emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang ada. Emosi takut akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap rasa sakit. Jika seseorang merasa takut maka setelah operasi akan merasa lebih sakit dibandingkan dengan mereka yang menghadapi operasi dengan perasaan tidak takut.
6. Budaya: seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akan mempersepsikan orang-orang di luar kelompoknya sebagai sama saja. Inilah yang membentuk terjadinya stereotip. Kita akan melihat orang tua sebagai sama saja cerewetnya dan suka membanggakan masa lalunya. Demikian pula orang tua akan mempersepsikan anak muda sekarang sebagai anak muda yang kurang tahu sopan santun dan kurang tahu bekerja keras.


3.      FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI

  1. Pengamat (orang yang memiliki persepsi). Penginterpretasian dari apa yang seseorang lihat bergantung pada karakteristik pribadi orang tersebut, antara lain:
  2. Sikap. Sikap atau attitude seseorang sangat mempengaruhi persepsi yang dibentuknya akan hal-hal di sekitarnya. Ketika tangah mewawancarai para kandidat yang akan mengisi satu posisi penting yang membutuhkan keahlian dalam bernegosiasi dengan supplier dalam perusahaan, Mr. X mungkin berpendapat bahwa pria merupakan pilihan yang tepat dibandingkan dengan wanita, karena wanita di sini dinilai tidak akan mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik, terutama bila negosiasi berjalan dengan alot dan pelik. Sikap yang disertai dengan asumsi seperti ini akan mempengaruhi persepsi Mr. X terhadap para kandidat perempuan yang dia wawancarai.
  3. Motif atau alasan di balik tindakan yang dilakukan seseorang yang mampu menstimulasi dan memberikan pengaruh kuat terhadap pembentukan persepsi mereka akan segala sesuatu. Seseorang yang ambisius dan berkeinginan untuk meraih kekuasaan akan melihat orang-orang di sekelilingnya sebagai kompetitor yang harus ia kalahkan guna tercapainya tujuan.
  4. Ketertarikan atau interest. Fokus perhatian kita terhadap hal-hal yang tengah dihadapi turut dipengaruhi oleh ketertarikan kita akan sesuatu, yang menjelaskan mengapa pemahaman orang terhadap satu hal dapat berbeda dari apa yang dipersepsikan oleh orang lain. Sebagai contoh, seorang supervisor yang baru diberi peringatan oleh atasannya atas keterlambatannya akan lebih memperhatikan dan dan menyadari keterlambatan para kolega dan rekan kerjanya dibanding sebelumnya.
  5. Pengalaman. Pengetahuan atau kejadian yang telah didapatkan dan dialami seseorang. Contohnya, ketika secara tidak sengaja pernah menyaksikan suatu tragedi pembunuhan, seseorang menjadi tidak bisa melihat warna merah karena orang tersebut mengasosiasikan warna merah sebagai warna yang buruk.
  6. Harapan atau Ekspektasi, yakni gambaran atau ilustrasi yang membentuk sebuah pencitraan terhadap sebuah keadaan. Contohnya seseorang  yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan penampilan yang meyakinkan akan dinilai sebagai orang yang kompeten dan reliabledi bidangnya.
    1. Situasi/ Keadaan. Situasi di mana interaksi antara sang pengamat dan target terjadi memiliki pengaruh pada kesan si pengamat terhadap targetnya. Berbagai faktor situasional dapat berperan seperti faktor tempat, panas, maupun cahaya. Persepsi orang tentang teknologi terkini yang dianggap canggih mungkin akan berubah di waktu-waktu mendatang ketika teknologi baru yang lebih canggih muncul dan menggantikan predesessornya.
    2. Target (Objek yang Dipersepsikan). Karakteristik dari target yang diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Bahkan, orang-orang, benda maupun kejadian-kejadian yang mempunyai kemiripan satu sama lain juga memiliki kecenderungan untuk dikategorikan ke dalam suatu kelompok tertentu. Contohnya, apabila beberapa orang mahsiswi sering terlihat bersama-sama dan kesemuanya memiliki potongan rambut yang sama, kebanyakan orang akan mempersepsikan mereka sebagai sebuah kelompok yang tidak hanya memiliki kesamaan ciri-ciri fisik, tapi juga sifat-sifatnya.
Dikutip dari beberapa pendapat para ahli antara lain: David Krench dan Richard S. Crutchfield (1977) membagikan faktor-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua, yaitu:
  1. Faktor Fungsional, adalah faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Faktor personal yang menentukan persepsi adalah objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
  2. Faktor Struktural, adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat. Stimulus fisik efek-efek saraf yang ditimbulkan pada system saraf individu. Faktor struktural yang menentukan persepsi menurut teori Gestalt bila kita ingin mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Bila kita ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan (Rakhmad, 1989: 52).
Menurut Kenneth, perhatian juga sangat berpengaruh terhadap persepsi. Dimana perhatian merupakan proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimulus yang lainnya melemah (dalam Rakhmad, 1989: 52). Tertarik tidaknya individu untuk memperhatikan satu stimulus dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1.      faktor internal (kebiasaan, minat, emosi, dan keadaan biologis), dan
2.      faktor eksternal (intensitas,kebaruan, gerakan dan pengulangan stimulus).
Proses terbentuknya persepsi sangat kompleks dan ditentukan oleh dinamika yang terjadi  diri seseorang. Ketika ia mendengar, mencium, melihat, merasa atau bagaimana ia memandang suatu objek yang melibatkan aspek psikologis dan panca inderanya.

4.PROSES TERJADINYA PERSEPSI
Persepsi seseorang tidaklah timbul begitu saja, ada tahapan-tahapan atau proses tertentu yang harus dilalui oleh seseorang untuk bisa berpersepsi. Menurut Sunaryo (2004) persepsi melewati tiga proses, yaitu :
  1. Proses fisik (kealaman) — Objek è Stimulus è reseptor atau alat indera
  2. Proses fisiologis — Stimulus è saraf sensoris è otak
  3. Proses psikologis — proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulus yang diterima
Sejalan dengan hal itu Bimo Walgito (2002) mengemukakan proses-proses terjadinya persepsi : 1) Suatu obyek atau sasaran menimbulkan stimulus, selanjutnya stimulus tersebut ditangkap oleh alat indera. Proses ini berlangsung secara alami dan berkaitan dengan segi fisik. Proses tersebut dinamakan proses kealaman, 2) Stimulus suatu obyek yang diterima oleh alat indera, kemudian disalurkan ke otak melalui syaraf sensoris. Proses pentransferan stimulus ke otak disebut proses psikologis, yaitu berfungsinya alat indera secara normal, dan 3) Otak selanjutnya memproses stimulus hingga individu menyadari obyek yang diterima oleh alat inderanya. Proses ini juga disebut proses psikologis. Dalam hal ini terjadilah adanya proses persepsi yaitu suatu proses di mana individu mengetahui dan menyadari suatu obyek berdasarkan stimulus yang mengenai alat inderanya.
secara lebih detail Gibson (1990) berpendapat mengenai proses terjadinya persepsi yaitu mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.
Dari beberapa pendapat di atas, maka proses terjadinya persepsi dapat kita visualisasikan dalam bagan sebagai berikut :

Bagan Proses Terjadinya Persepsi
http://deddysumardi.files.wordpress.com/2012/04/bagan-persepsi.jpg?w=470&h=310

Sumber:
1.      Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung. PT Remaja Rosda karya.
2.      Shahib, Nurhalim. 2010. Pembinaan Kreativitas Anak Guna Membangun Kompetensi. Bandung. PT ALUMNI Bandung 2010.


KONSEP DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penulisan
Sosiologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang membicarakan bagaimana proses interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang individu untuk mempengaruhi individu lain untuk mencari pengalaman baru serta mengorganisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Saat ini perubahan sosial yang cepat telah terjadi dalam masyarakat, perubahan tersebut terjadi di berbagi bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti: industri, agama, perekonomian, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Masalah pendidikan dalam keluarga, pendidikan disekolah, dan pendidikan dalam masyarakat merupakan refleksi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Gejala-gejala seperti penderitaan rakyat, kegelisahan sosial, dan desintegrasi sosial (konflik) antar ras konflik politik, konflik antar golongan agama dan sebagainya merupakan gejala umum yang terdapat dalam berbagai masyarakat. Krisis yang kita alami sekarang adalah krisis dalam hubungan antar manusia, tata sosial, dan krisis dalam hal kepercayaan.
  

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembahasan makalah ini, yaitu:
1.      Apakah pengertian sosiologi dan sosiologi pendidikan?
2.      Apasajakah yang melatar belakangi lahirnya sosiologi pendidikan?
3.      Seperti apakah ruang lingkup kajian sosiologi pendidikan?
4.      Apasajakah tujuan sosiologi pendidikan?
5.      Bagaimana fungsi dan peranan sosiologi pendidikan?

C.    Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen Darimis, S. Ag, M. Pd. dan adapun secara khusus yaitu :
1.      Untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman penulis dan pembaca mengenai konsep dasar sosiologi pendidikan.
2.      Untuk memberikan serta menambah informasi dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.




BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN

A.    Pengertian Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan
a.       Pengertian Sosiologi
Sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang cara berteman atau bersahabat yang baik atau cara bergaul yang baik dengan masyarakat.
Mayor Polak mendefinisikan Sosiologi adalah “ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis”.[1]
Jadi, sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat.
b.      Pengertian Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan merupahan suatu ilmu yang membicarakan bagaimana proses interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang individu untuk mempengaruhi individu lain untuk mencari pengalaman baru serta mengorganisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
F. G. Robbins dan Brown mendefinisikan sosiologi pendidikan adalah “ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan  sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya”.[2]
Jadi, sosiologi pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio kulturil yang terdapat di dalam masyarakat dan negaranya.

B.     Latar Belakang Lahirnya Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan berkembang diawal abad ke-20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif.
Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagi bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti: industri, agama, perekonomian, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Masalah pendidikan dalam keluarga, pendidikan disekolah, dan pendidikan dalam masyarakat merupakan refleksi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Gejala-gejala seperti penderitaan rakyat, kegelisahan sosial, dan desintegrasi sosial (konflik) antar ras konflik politik, konflik antar golongan agama dan sebagainya merupakan gejala umum yang terdapat dalam berbagai masyarakat. Krisis yang kita alami sekarang adalah krisis dalam hubungan antar manusia, tata sosial, dan krisis dalam hal kepercayaan.
Masyarakat pada hakikatnya merupakan sistem hubungan antara satu dengan yang lain. Tiap masyarakat mengalami perubahan dan kontinuitas (kelangsungan), integrasi dan desintegrasi, kerjasama dan konflik. Dasar ikatan masyarakat ialah adanya kepentingan dan nilai-nilai umum yang diterima oleh anggota-anggotanya. Program yang berlawanan dari kelompok-kelompok masyarakat menyebabkan berkurangnya kesetian terhadap nilai-nilai umum itu. Jika hal itu terjadi masyarakat jelas akan mengalami disentegrasi.
R. Linton mendefinisikan nilai-nilai dalam masyarakat dapat digolongkan menjadi dua yaitu: “nilai-nilai inti (universal), nilai-nilai periphery (alternatives)”.[3]
Universal sifatnya kuat, integrated, stabil dan diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat, bahkan menjadi dasar daripada tata sosial masyarakat. Sedangkan alternatifes sifatnya tidak stabil, kurang integrated dan hanya diterima oleh sebagian anggota masyarakat. Apabila masyarakat berubah cepat, maka alternatife tumbuh banyak, hal itu dapat mengaburkan universal, isi nilai-nilai inti menjadi berkurang. Akibatnya kebudayaan menjadi kehilangan pola dan kesatuannya.
            Hilangnya nilai-nilai inti berarti disentegrasi sosial sumber daripadanya ialah perubahan sosial yang cepat terutama dalam bentuk urbanisasi. Hubungan yang mula-mula didasari dengan ikhlas berubah menjadi hubungan pamrih. Pergeseran itulah yang merupakan sumber berbagai masalah sosial. Institusi pendidikan tidak mampu mengejar perubahan sosial yang cepat itu, yang disebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menimbulkan berbagai  kultural. Oleh karena itu, ahli-ahli sosiologi kemudian menyambungkan  pemikiran-pemikiran untuk turut memecahkan masalah pendidikan itu. Maka lahirnya suatu disiplin baru yang disebut sosiologi pendidikan.

C.    Mengorganisasikan Ruang Lingkup Kajian Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi antara individu-individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Secara khusus sosiologi pendidikan itu membicarakan, melukiskan dan menerangkan institusi-institusi, kelompok-kelompok, sosial dan proses kelompok sosial, hubungan sosial dimana didalam dan dengannya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Jadi sosiologi pendidikan tidak hanya terbatas pada studi sekolah saja tetapi lebih luas lagi ialah mencakup institusi-institusi sosial dengan batasan sepanjang  pengaruh daripada totalitas miliekulural terhadap perkembangan kepribadian anak.
Wilayah kajian sosiologi pendidikan memang sangat luas, namun kajiannya tidak terlepas dari berbagai persoalan masyarakat dan yang memungkinkan institusi pendidikan merekam berbagai persoalan dalam masyarakat tersebut. Pendidikan yang dilembagakan seperti persekolahan, dituntut untuk dapat merekam segala fenomena yang terjadi di masyarakat, selanjutnya sekolah memberikan penjelasan kepada peserta didik terhadap ontologis dari suatu peristiwa. Dengan adanya peristiwa tersebut diharapkan peserta didik dapat menentukan arah dan sikap yang tepat dalam merespon positif atau negatifnya sebuah peristiwa.
Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mengharuskan masyarakat dituntut untuk turut serta aktif bahkan proaktif dan bertanggungjawab  terhadap penyelenggaraan persekolahan. Walaupun sangat dirasakan bahwa tuntutan masyarakat selalu lebih besar daripada peranan masyarakat itu sendir, padahal kepedulian masyarakat akan menentukan meningkatnya pendidikan.
Menurut teori hirarki kebutuhan Maslow yang dikutip oleh Armstrong (1994) berlaku universal pada manusia hampir disepakati oleh ilmuan, yang inti dari teori tersebut mengatakan bahwa manusia membutuhkan pemenuhan-pemenuhan sebagai berikut:
a)Fisiologis: kebutuhan makan, minum dan hal-hal yang penting untuk kehidupan, b) keselamatan atau keamanan: kebutuhan perlindungan dari bahaya dan kehilangan kebutuhan fisiologis, c) sosial: kebutuhan cinta, kasih sayang dan diterima sebagai anggota kelompok sosial, d) penghargaan: kebutuhan memiliki harga diri yang stabil dan tinggi serta kebutuhan untuk dihormati orang lain, e) pemenuhan diri: kebutuhan untuk mengembangkan potensi dan kecakapan, untuk menjadi orang yang dipercaya orang lain.
Wilayah kajian sosiologi pendidikan yang cukup luas dengan segala aspek kehidupan masyarakat dengan segala atributnya, menjadikan sosiologi pendidikan sebuah disiplin ilmu yang penting diberiakan dilembaga pendidikan tenaga kependidikan islam (LPTKI). Sebab kajian mengenai masyarakat tidak akan putus-putusnya, terutama berkaitan dengan norma dan nilai yang dianut, baik itu  norma dan nilai yang berdasarkan budaya, terutama yang berdasarkan agama.

D.    Tujuan Sosiologi Pendidikan
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya adalah untuk mempercapat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapai tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.[4]
Adapun tujuan sosiologi pendidikan di Indonesia adalah:
1.      Berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual.
2.      Untuk memahami seberapa jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian anak.
3.      Untuk mengetahui pembinaan ideologi pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di lingkungan pendidikan dan pengajaran.
4.      Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyarakat sekitarnya agar pendidikan mempunyai kegunaan praktis didalam masyarakat, dan seluruh negara.
5.      Untuk menyelidiki faktor-faktor kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
6.      Memberi sumbangan yang positif terhadap penggunaan prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.[5]
Selain itu ditemukan beberapa konep tentang tujuan sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut:
a.       Menganalisis proses sosialisasi anak. Baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
b.      Menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial.
c.       Menganalisis status pendidikan dalam masyarakat.
d.      Menganalisis partisipasi orang-orang terdidik atau berpendidikan dalam kegiatan sosial.
e.       Membantu menentukan tujuan pendidikan.
f.       Sosiologi pendidikan bertujuan utama memberikan kepada guru-guru (termasuk pada peneliti dan siapapun yang tertarik dalam bidang pendidikan) latihan-latihan yang efektif dalam bidang sosiologi dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan.[6]
dengan demikian, sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk menganalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antar manusia disekolah serta masyarakat.

E.     Fungsi dan Peran Sosiologi Pendidikan
Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, sosiologi pendidikan  dituntut melakukan tiga fungsi pokok, yaitu:
1.      Fungsi eksplanasis, yaitu dalam menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk kedalam ruang lingkup pembahasannya.
2.      Fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang.
3.      Fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang dialami dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan  pendidikan sendiri.[7]
Jadi, secara umum sosiologi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena sosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, sosiologi pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan prantara kehidupan lain.
Salah satu fungsi sosiologi pendidikan di Indonesia adalah memantapkan pancasila sebagai universal yang menjadi dasar integrasi nasional.


BAB III
PENUTUP

1.      Simpulan
Sosiologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang membahas persoalan-persoalan didunia pendidikan dengan menggunakan pendekatan sosiologis.
Latar belakang lahirnya sosiologi pendidikan berawal dari perubahan sosial yang cepat di masyarakat. Dengan perubahan tersebut, muncullah cultural lag. Yang mana hal tersebut menjadi sumber dari permasalahn sosial yang dialami oleh lembaga pendidikan, dan lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Kemudian para ahli sosiologipun memberikan sumbangan pemikirannya dan lahirlah sosiologi pendidikan.
Lingkup kajian sosiologi pendidikan (S. Nasution, 1983) mencakup hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat, hubungan antar manusia dalam sekolah, pengaruh sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak disekolah (guru dan siswa) serta sekolah dalam masyarakat.
sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk menganalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antar manusia disekolah serta masyarakat.
Salah satu fungsi sosiologi pendidikan di Indonesia adalah memantapkan pancasila sebagai universal yang menjadi dasar integrasi nasional.



2.      Saran
Penulis menyarankan, agar pembaca lebih dapat memahami konsep dasar sosiologi pendidikan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.

                                            


                             DAFTAR PUSTAKA

Ary H. Gunawan. Sosiologi Pendidikan. 2010. Rineka Cipta. Jakarta.
Muhyi Batubara. Sosiologi Pendidikan. 2004. PT. Ciputat Press. Jakarta.
Abu Ahmadi. Sosiologi Pendidikan. 2004. Rineka Cipta. Jakarta



[1] Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 3
[2] Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2004), hal. 3
[3] Batubara, Sosiologi Pendidikan... , hal. 3
[4] Batubara, Sosiologi Pendidikan... , hal. 3
[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 10
[6] Abu, Sosiologi Pendidikan... , hal. 51
[7] Dyah, (2012). Fungsi Sosiologi Pendidikan. (Online). Tersedia: http://dyahrahayuarmanto.wordpress.com/tag/fungsi-sosiologi-pendidikan/(8 september 2012). Html (11 Maret 2014).